Gambar Vulgar AI Tidak Nyata, Namun Dampaknya Sangat Nyata
Banyak perempuan dilaporkan mengalami tekanan psikologis
serius setelah Grok, chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) di platform media
sosial X, digunakan untuk memanipulasi foto mereka. Melalui teknologi AI,
pakaian dalam foto dihilangkan sehingga korban tampak seolah mengenakan bikini,
berada dalam pose sensual, atau bahkan digambarkan dengan luka, darah, dan
memar.
Tidak hanya menargetkan perempuan dewasa, Grok—seperti alat
AI generatif lainnya—juga dilaporkan disalahgunakan untuk memproduksi materi
pelecehan seksual terhadap anak, memicu kekhawatiran luas soal keamanan dan
etika penggunaan AI.
Pemerintah Inggris Percepat Regulasi Gambar Vulgar AI
Merespons fenomena tersebut, pemerintah Inggris menyatakan
akan mempercepat penerapan undang-undang yang disahkan pada Juni 2025. Aturan
ini secara tegas melarang pembuatan dan penyebaran gambar vulgar berbasis AI
tanpa persetujuan subjek yang bersangkutan.
Setelah Grok diblokir di Malaysia dan Indonesia, pengembangnya
melakukan pembaruan agar chatbot tersebut tidak lagi menghasilkan gambar vulgar
terhadap orang nyata di wilayah yang menganggap praktik ini ilegal, termasuk
Inggris.
Namun, pemilik X Elon Musk menanggapi langkah pemerintah
Inggris dengan skeptis. Ia menuduh otoritas hanya mencari “alasan untuk
melakukan sensor”. Di sisi lain, regulator media Inggris, Ofcom, tengah
menyelidiki apakah aktivitas platform X melanggar hukum yang berlaku.
“Hanya Gambar Palsu”? Dampaknya Tetap Nyata
Sebagian pengguna X meremehkan dampak dari gambar AI yang
“menelanjangi” seseorang. Mereka menyebutnya sekadar gambar palsu, karya
fiktif, seni hiper-realistis, atau bahkan menyamakannya dengan kartun. Namun,
anggapan tersebut mengabaikan dampak psikologis nyata yang dialami para korban.
Meski konten seksual dalam gambar-gambar tersebut tidak
benar-benar terjadi, visualnya sangat realistis karena dibuat berdasarkan foto
asli korban. Tingkat kemiripan inilah yang membuat gambar-gambar tersebut mampu
melukai secara emosional.
Realisme visual, ditambah dengan pola pikir misoginis yang
melatarbelakangi pembuatannya, terbukti cukup untuk menimbulkan beban
psikologis berat bagi korban.
Mengapa Gambar “Telanjang” AI Sangat Menyakitkan?
Anggota parlemen Inggris Jess Asato, yang juga menjadi
korban, menggambarkan perasaan tidak nyaman saat melihat citra dirinya yang
“ditelanjangi” secara digital. Ia mengakui bahwa meski sadar gambar tersebut
buatan AI, dampak emosionalnya terasa sangat nyata.
Penelitian di bidang filsafat dan psikologi membantu
menjelaskan fenomena ini. Emosi manusia tidak selalu sejalan dengan pengetahuan
rasional. Seseorang bisa tahu bahwa dirinya aman, tetapi tetap merasa takut
atau tertekan. Dalam konteks ini, emosi korban bersifat recalcitrant—kuat
dan bertentangan dengan logika.
Penampilan digital kini menjadi bagian penting dari
identitas seseorang. Ketika gambar AI yang “dinudifikasi” sangat mirip dengan
tubuh asli korban, emosi pun mudah terpicu. Akibatnya, korban dapat merasa
terasing, dipermalukan, didehumanisasi, dan seolah hak tubuhnya dilanggar.
Ancaman Psikologis dan Sosial yang Lebih Luas
Penelitian menunjukkan bahwa penyebaran gambar seksual tanpa
persetujuan memiliki konsekuensi psikologis yang serius, bahkan kerap disamakan
dengan dampak yang dialami korban kekerasan seksual.
Di luar tekanan mental, korban juga terguncang oleh fakta
bahwa ada pihak yang merasa berhak memanipulasi tubuh mereka secara digital.
Praktik ini turut berfungsi sebagai alat kontrol sosial yang membatasi cara
perempuan mengekspresikan diri di ruang daring.
Video deepfake seksual dan gambar “telanjang” berbasis
AI—baik yang menargetkan selebritas, politisi, maupun warga biasa—secara
sistematis digunakan untuk mempermalukan perempuan. Meski gambarnya palsu, pola
pikir misoginis di baliknya sangat nyata dan terus berulang.

Comments
Post a Comment